Kamis, 10 Februari 2011

SELOKA

Mengenal Seloka
Seloka adalah salah satu bentuk puisi Melayu Klasik disamping mantera, bidal, pantun, gurindam, atau syair. Kata seloka berasal dari bahasa Sansekerta “sloka”. Ada berbagai pengertian seloka. Beberapa pengertian tersebut adalah sebagai berikut:
Menurut B. Simorangkir, seloka adalah peribahasa (pepatah) yang diberi sampiran. Lebih lanjut Simorangkir member contoh seloka sebagai berikut.

Anak Agam menjual sutera
Jual di Rengat tengah pekan
Jangan digenggam sebagai bara
Rasa hangat dilepaskan



Sementara menurut Hooykaas, seloka diartikan sebagai pantun yang mengandung kisahan/ibarat dan berisi nasihat. Hooykaas member contoh seloka sebagai berikut:

Terkelip api atas gunung
Orang memarun sarap balai
Maksud hati memeluk gunung
Apa daya tangan tak sampai



Lain lagi pengertian seloka menurut Amir Hamzah. Amir Hamzah mendefinisikan seloka sebagai pantun yang antara sampiran dan isinya terjadi hubungan arti.

Amir Hamzah memberi contoh seloka sebagai berikut

Jalan-jalan sepanjang jalan
Singgah-menyinggah di pagar orang
Pura-pura mencari ayam
Ekor mata di mata orang



Wikipedia mengartikan seloka sebagai bentuk puisi Melayu Klasik yang berisi pepetah maupun perumpamaan yang mengandung senda gurau, sindiran bahkan ejekan. Biasanya ditulis empat baris memakai bentuk pantun atau syair, terkadang dapat juga ditemui seloka yang ditulis lebih dari empat baris. Wikipedia menyajikan contoh seloka sebagai berikut
contoh seloka 4 baris:

Sudah bertemu kasih sayang
Duduk terkurung malam siang
Hingga setapak tiada renggang
Tulang sendi habis berguncang



contoh seloka lebih dari 4 baris:

Baik budi emak si Randang
Dagang lalu ditanakkan
Tiada berkayu rumah diruntuhkan
Anak pulang kelaparan
Anak dipangku diletakkan
Kera dihutan disusui



Sedangkan Melayu online hampir senada dengan Wikipedia menjelaskan seloka sebagai bentuk puisi Melayu Klasik yang memuat perumpamaan yang mengandung senda gurau, kejenakaan, khayalan, impian, sindiran, atau ejekan.

Seloka biasanya ditulis dalam dua atau empat baris namun juga terkadang beberapa ditemukan enam baris dengan memakai bentuk pantun atau syair, gurindam, talibun (bahasa berirama), teromba atau mantra. Jika terdiri dari dua bait maka akan tersusun menjadi dua kelompok yang masing-masing terdiri dari empat baris dengan masing-masing baris terdiri dari 16 kata.

Dalam Sastra Melayu, seloka termasuk dalam jenis puisi bebas. Terkadang rima dapat muncul namun beberapa tanpa ada rima. Secara keseluruhan, seloka berisi cerita yang benar-benar telah dikenal dalam masyarakat Melayu, seperti Pak Kaduk, Lebai Malang, dan lain-lain.

Fungsi seloka tetap seperti karya-karya sastra Melayu yang lain, yaitu sebagai pengajaran ataupun panduan bagi anggota masyarakatnya.
Contoh seloka

Seloka Pak Kaduk


Aduhai malang Pak Kaduk!
Ayamnya menang kampung tergadai
Ada nasi dicurahkan
Awak pulang kebuluran
Mudek menongkah surut
Hilir menongkah pasang
Ada isteri dibunuh
Nyaris mati oleh tak makan
Masa belayar kematian angin
Sudah dilabuh bayu berpuput
Ada rumah bertandang duduk
Aduhai malang Pak Kaduk


Salah satu sindiran di dalam seloka tersebut adalah “Ayamnya menang kampung tergadai.” Lazimnya jika ayamnya menang maka pemilik ayam akan memperoleh hadiah. Hal ini berbalik dengan apa yang dialami Pak Kaduk, sudah ayamnya menang dia harus kehilangan taruhannya yaitu kampungnya. Untuk lebih jelasnya dapat kita perhatikan ringkasan ceritanya di bawah ini:

Cerita Pak Kaduk, merupakan cerita yang mengisahkan sepasang suami-istri yang bernama Pak Kaduk dan Mak Siti. Kisah ini terjadi di wilayah negeri Cempaka Sari, yang dipimpin oleh seorang raja yang bernama Indera Sari. Raja dan masyarakatnya hidup dalam lingkungan perjudian. Salah satu kegemaran Raja Indera Sari adalah menyabung ayam

Di dalam wilayah ini ada sepasang suami isteri, Pak Kaduk dan Mak Siti yang hidup di tepi sungai dalam keadaan miskin. Pada suatu hari, Pak Kaduk berkeinginan juga untuk ikut menyabung ayam di kerajaan. Ia membawa ayamnya yang bernama Biring Si Kunani. Dia begitu yakin dengan ayamnya ini akan memenangkan pertandingan dengan ayam-ayam di istana. Pak Kaduk mempersiapkan pakaian dari kertas dan meminta istrinya untuk menjahit pakaian tersebut. Setelah bajunya jadi, Pak Kaduk pergi ke gelanggang sabung. Dengan tipu muslihat yang dilakukan oleh Raja, ayam Pak Kaduk telah ditukar dengan ayam milik baginda yang bernama Si Jalak. Karena keyakinannya, Pak Kaduk tanpa pertimbangan dengan matang mempertaruhkan kampungnya kepada Raja dengan uang sejumlah 50 rial.

Dalam pertandingan tersebut ternyata Biring Si Kunani telah menewaskan Si Jalak. Pak Kaduk tidak tahu bahwa ayamnya telah ditukarkan dengan ayam Baginda. Pak Kaduk melompat-lompat kegirangan karena Biring Si Kunani yang telah menjadi milik Raja disangka ayamnya. Dengan tingkahnya yang melompat-lompat kegirangan membuat bajunya yang dari kertas robek semua sehingga dia menjadi telanjang. Melihat kejadian tersebut Sang Raja dan orang-orang di sekitarnya mentertawakan Pak Kaduk. Akhirnya Pak Kaduk menyadari bahwa semua yang dia kerjakan merupakan tindakan yang salah besar, sehingga dia menyesal atas semua tindakan tersebut.


Ada yang lain lagi, menyamakan seloka dengan pantun berkait.

Selengkapnya...

KARYA SASTRA DAN PERIODESASI

A. Karya Sastra Bentuk Prosa

Karangan prosa ialah karangan yang bersifat menerangjelaskan secara terurai mengenai suatu masalah atau hal atau peristiwa dan lain-lain. Pada dasarnya karya bentuk prosa ada dua macam, yakni karya sastra yang bersifat sastra dan karya sastra yang bersifat bukan sastra. Yang bersifat sastra merupakan karya sastra yang kreatif imajinatif, sedangkan karya sastra yang bukan Sastra ialah karya sastra yang nonimajinatif.

Macam Karya Sastra Bentuk Prosa

Dalam khasanah sastra Indonesia dikenal dua macam kelompok karya sastra menurut temanya, yakni karya sastra lama dan karya sastra baru. Hal itu juga berlaku bagi karya sastra bentuk prosa. Jadi, ada karya sastra prosa lama dan karya sastra prosa baru.

Perbedaan prosa lama dan prosa baru menurut Dr. J. S. Badudu adalah:

Prosa lama:

1. Cenderung bersifat stastis, sesuai dengan keadaan masyarakat lama yang mengalami perubahan secara lambat.

2. Istanasentris ( ceritanya sekitar kerajaan, istana, keluarga raja, bersifat

feodal).

3. Hampir seluruhnya berbentuk hikayat, tambo atau dongeng. Pembaca

dibawa ke dalam khayal dan fantasi.

4. Dipengaruhi oleh kesusastraan Hindu dan Arab.

5. Ceritanya sering bersifat anonim (tanpa nama)

6. Milik bersama

Prosa Baru:

1. Prosa baru bersifat dinamis (senantiasa berubah sesuai dengan perkembangan masyarakat)

2. Masyarakatnya sentris ( cerita mengambil bahan dari kehidupan masyarakat sehari-hari)

3. Bentuknya roman, cerpen, novel, kisah, drama. Berjejak di dunia yang nyata, berdasarkan kebenaran dan kenyataan

4. Terutama dipengaruhi oleh kesusastraan Barat

5. Dipengaruhi siapa pengarangnya karena dinyatakan dengan jelas

6. Tertulis

1. Prosa lama

Prosa lama adalah karya sastra daerah yang belum mendapat pengaruh dari sastra atau kebudayaan barat. Dalam hubungannya dengan kesusastraan Indonesia maka objek pembicaraan sastra lama ialah sastra prosa daerah Melayu yang mendapat pengaruh barat. Hal ini disebabkan oleh hubungannya yang sangat erat dengan sastra Indonesia. Karya sastra prosa lama yang mula-mula timbul disampaikan secara lisan. Disebabkan karena belum dikenalnya bentuk tulisan. Dikenal bentuk tulisan setelah agama dan kebudayaan Islam masuk ke Indonesia, masyarakat Melayu mengenal tulisan. Sejak itulah sastra tulisan mulai dikenal dan sejak itu pulalah babak-babak sastra pertama dalam rentetan sejarah sastra Indonesia mulai ada.

Bentuk-bentuk sastra prosa lama adalah:

a. Mite adalah dongeng yang banyak mengandung unsur-unsur ajaib dan ditokohi oleh dewa, roh halus, atau peri. Contoh Nyi Roro Kidul

b. Legenda adalah dongeng yang dihubungkan dengan terjadinya suatu tempat. Contoh: Sangkuriang, SI Malin Kundang

c. Fabel adalah dongeng yang pelaku utamanya adalah binatang. Contoh: Kancil

d. Hikayat adalah suatu bentuk prosa lama yang ceritanya berisi kehidupan raja-raja dan sekitarnya serta kehidupan para dewa. Contoh: Hikayat Hang Tuah.

e. Dongeng adalah suatu cerita yang bersifat khayal. Contoh: Cerita Pak Belalang.

f. Cerita berbingkai adalah cerita yang di dalamnya terdapat cerita lagi yang dituturkan oleh pelaku-pelakunya. Contoh: Seribu Satu Malam

1. Prosa Baru

Prosa baru adalah karangan prosa yang timbul setelah mendapat pengaruh sastra atau budaya Barat. Prosa baru timbul sejak pengaruh Pers masuk ke Indonesia yakni sekitar permulaan abad ke-20. Contoh: Nyai Dasima karangan G. Fransis, Siti mariah karangan H. Moekti.

Berdasarkan isi atau sifatnya prosa baru dapat digolongkan menjadi:

1. Roman adalah cerita yang mengisahkan pelaku utama dari kecil sampai mati, mengungkap adat/aspek kehidupan suatu masyarakat secara mendetail/menyeluruh, alur bercabang-cabang, banyak digresi (pelanturan). Roman terbentuk dari pengembangan atas seluruh segi kehidupan pelaku dalam cerita tersebut. Contoh: karangan Sutan Takdir Alisjahbana: Kalah dan Manang, Grota Azzura, Layar Terkembang, dan Dian yang Tak Kunjung Padam

2. Riwayat adalah suatu karangan prosa yang berisi pengalaman-pengalaman hidup pengarang sendiri (otobiografi) atau bisa juga pengalaman hidup orang sejak kecil hingga dewasa atau bahkan sampai meninggal dunia. Contoh: Soeharto Anak Desa atau Prof. Dr. B.I Habibie atau Ki hajar Dewantara.

3. Otobiografi adalah karya yang berisi daftar riwayat diri sendiri.

4. Antologi adalah buku yang berisi kumpulan karya terplih beberapa orang. Contoh Laut Biru Langit Biru karya Ayip Rosyidi

5. Kisah adalah riwayat perjalanan seseorang yang berarti cerita rentetan kejadian kemudian mendapat perluasan makna sehingga dapat juga berarti cerita. Contoh: Melawat ke Jabar – Adinegoro, Catatan di Sumatera – M. Rajab.

6. Cerpen adalah suatu karangan prosa yang berisi sebuah peristiwa kehidupan manusia, pelaku, tokoh dalam cerita tersebut. Contoh: Tamasya dengan Perahu Bugis karangan Usman. Corat-coret di Bawah Tanah karangan Idrus.

7. Novel adalah suatu karangan prosa yang bersifat cerita yang menceritakan suatu kejadian yang luar biasa dan kehidupan orang-orang. Contoh: Roromendut karangan YB. Mangunwijaya.

8. Kritik adalah karya yang menguraikan pertimbangan baik-buruk suatu hasil karya dengan memberi alasan-alasan tentang isi dan bentuk dengan kriteria tertentu yangs ifatnya objektif dan menghakimi.

9. Resensi adalah pembicaraan/pertimbangan/ulasan suatu karya (buku, film, drama, dll.). Isinya bersifat memaparkan agar pembaca mengetahui karya tersebut dari ebrbagai aspek seperti tema, alur, perwatakan, dialog, dll, sering juga disertai dengan penilaian dan saran tentang perlu tidaknya karya tersebut dibaca atau dinikmati.

10. Esei adalah ulasan/kupasan suatu masalah secara sepintas lalu berdasarkan pandangan pribadi penulisnya. Isinya bisa berupa hikmah hidup, tanggapan, renungan, ataupun komentar tentang budaya, seni, fenomena sosial, politik, pementasan drama, film, dll. menurut selera pribadi penulis sehingga bersifat sangat subjektif atau sangat pribadi.

B. Puisi

Puisi adalah bentuk karangan yang terkikat oleh rima, ritma, ataupun jumlah baris serta ditandai oleh bahasa yang padat. Unsur-unsur intrinsik puisi adalah

a. tema adalah tentang apa puisi itu berbicara

b. amanat adalah apa yang dinasihatkan kepada pembaca

c. rima adalah persamaan-persamaan bunyi

d. ritma adalah perhentian-perhentian/tekanan-tekanan yang teratur

e. metrum/irama adalah turun naik lagu secara beraturan yang dibentuk oleh persamaan jumlah kata/suku tiap baris

f. majas/gaya bahasa adalah permainan bahasa untuk efek estetis maupun maksimalisasi ekspresi

g. kesan adalah perasaan yang diungkapkan lewat puisi (sedih, haru, mencekam, berapi-api, dll.)

h. diksi adalah pilihan kata/ungkapan

i. tipografi adalah perwajahan/bentuk puisi

Menurut zamannya, puisi dibedakan atas puisi lama dan puisi baru.

a. puisi lama

Ciri puisi lama:

1. merupakan puisi rakyat yang tak dikenal nama pengarangnya

2. disampaikan lewat mulut ke mulut, jadi merupakan sastra lisan

3. sangat terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata maupun rima

Yang termausk puisi lama adalah

1. mantra adalah ucapan-ucapan yangd ianggap memiliki kekuatan gaib

2. pantun adalah puisi yang bercirikan bersajak a-b-a-b, tiap bait 4 baris, tiap baris terdiri dari 8-12 suku kata, 2 baris awal sebagai sampiran, 2 baris berikutnya sebagai isi. Pembagian pantun menurut isinya terdiri dari pantun anak, muda-mudi, agama/nasihat, teka-teki, jenaka

3. karmina adalah pantun kilat seperti pantun tetapi pendek

4. seloka adlah pantun berkait

5. gurindam adalah puisi yang berdirikan tiap bait 2 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat

6. syair adalah puisi yang bersumber dari Arab dengan ciri tiap bait 4 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat atau cerita

7. talibun adalah pantun genap yang tiap bait terdiri dari 6, 8, ataupun 10 baris

b. puisi baru

Puisi baru bentuknya lebih bebas daripada puisi lama baik dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun rima.Menurut isinya, puisi dibedakan atas

1. balada adalah puisi berisi kisah/cerita

2. himne adAlah puisi pujaan untuk Tuhan, tanah air, atau pahlawan

3. ode adalah puisi sanjungan untuk orang yang ebrjasa

4. epigram adalah puisi yang berisi tuntunan/ajaran hidup

5. romance adalah puisi yang berisi luapan perasaan cinta kasih

6. elegi adalah puisi yang berisi ratap tangis/kesedihan

7. satire adalah puisi yang berisi sindiran/kritik

Membaca Puisi

Adapun faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam membaca puisi antara lain:

1. jenis acara: pertunjukkan, pembuka acara resmi, performance-art, dll.,

2. pencarian jenis puisi yang cocok dengan tema: perenungan, perjuangan, pemberontakan, perdamaian, ketuhanan, percintaan, kasih sayang, dendam, keadilan, kemanusiaan, dll.,

3. pemahaman puisi yang utuh,

4. pemilihan bentuk dan gaya baca puisi, meliputi poetry reading, deklamasi, dan teaterikal

5. tempat acara: indoor atau outdoor,

6. audien,

7. kualitas komunikasi,

8. totalitas performansi: penghayatan, ekspresi( gerak dan mimik)

9. kualitas vokal, meliputi volume suara, irama (tekanan dinamik, tekanan nada, tekanan tempo)

10. kesesuaian gerak,

11. jika menggunakan bentuk dan gaya teaterikal, maka harus memperhatikan:

a) pemilihan kostum yang tepat,

b) penggunaan properti yang efektif dan efisien,

c) setting yang sesuai dan mendukung tema puisi,

d) musik yang sebagai musik pengiring puisi atau sebagai musikalisasi puisi

C. Drama/Film

Drama atau film merupakan karya yang terdiri atas aspek sastra dan asepk pementasan. Aspek sastra drama berupa naskah drama, dan aspek sastra film berupa skenario. Unsur instrinsik keduanya terdiri dari tema, amanat/pesan, plot/alur, perwatakan/karakterisasi, konflik, dialog, tata artistik (make up, lighting, busana, properti, tata panggung, aktor, sutradara, busana, tata suara, penonton), casting (penentuan peran), dan akting (peragaan gerak para pemain).

D. Periodisasi Sastra Indonesia

Periodisasi sastra adalah pembabakan waktu terhadap perkembangan sastra yang ditandai dengan ciri-ciri tertentu. Maksudnya tiap babak waktu (periode) memiliki ciri tertentu yang berbeda dengan periode yang lain.

1. Zaman Sastra Melayu Lama

Zaman ini melahirkan karya sastra berupa mantra, syair, pantun, hikayat, dongeng, dan bentuk yang lain.

2. Zaman Peralihan

Zaman ini dikenal tokoh Abdullah bin Abdulkadir Munsyi. Karyanya dianggap bercorak baru karena tidak lagi berisi tentang istana danraja-raja, tetapi tentang kehidupan manusia dan masyarakat yang nyata, misalnya Hikayat Abdullah (otobiografi), Syair Perihal Singapura Dimakan Api, Kisah Pelayaran Abdullah ke Negeri Jedah. Pembaharuan yang ia lakukan tidak hanya dalam segi isi, tetapi juga bahasa. Ia tidak lagi menggunakan bahasa Melayu yang kearab-araban.

3. Zaman Sastra Indonesia

a. Angkatan Balai Pustaka (Angkatan 20-an)

Ciri umum angkatan ini adalah tema berkisari tentang konflik adat antara kaum tua dengan kaum muda, kasih tak sampai, dan kawin paksa, bahan ceritanya dari Minangkabau, bahasa yang dipakai adalah bahasa Melayu, bercorak aliran romantik sentimental.

Tokohnya adalah Marah Rusli (roman Siti Nurbaya), Merari Siregar (roman Azab dan Sengsara), Nur Sutan Iskandar (novel Apa dayaku Karena Aku Seorang Perempuan), Hamka (roman Di Bawah Lindungan Ka’bah), Tulis Sutan Sati (novel Sengsara Membawa Nikmat), Hamidah (novel Kehilangan Mestika), Abdul Muis (roman Salah Asuhan), M Kasim (kumpulan cerpen Teman Duduk)

b. Angkatan Pujangga Baru (Angkatan 30-an)

Cirinya adalah 1) bahasa yang dipakai adalah bahasa Indonesia modern, 2) temanya tidak hanya tentang adat atau kawin paksa, tetapi mencakup masalah yang kompleks, seperti emansipasi wanita, kehidupan kaum intelek, dan sebagainya, 3) bentuk puisinya adalah puisi bebas, mementingkan keindahan bahasa, dan mulai digemari bentuk baru yang disebut soneta, yaitu puisi dari Italia yang terdiri dari 14 baris, 4) pengaruh barat terasa sekali, terutama dari Angkatan ’80 Belanda, 5)aliran yang dianut adalah romantik idealisme, dan 6) setting yang menonjol adalah masyarakat penjajahan.

Tokohnya adalah STA Syhabana (novel Layar Terkembang, roman Dian Tak Kunjung Padam), Amir Hamzah (kumpulan puisi Nyanyi Sunyi, Buah Rindu, Setanggi Timur), Armin Pane (novel Belenggu), Sanusi Pane (drama Manusia Baru), M. Yamin (drama Ken Arok dan Ken Dedes), Rustam Efendi (drama Bebasari), Y.E. Tatengkeng (kumpulan puisi Rindu Dendam), Hamka (roman Tenggelamnya Kapa nVan Der Wijck).

c. Angkatan ’45

Ciri umumnya adalah bentuk prosa maupun puisinya lebih bebas, prosanya bercorak realisme, puisinya bercorak ekspresionisme, tema dan setting yang menonjol adalah revolusi, lebih mementingkan isi daripada keindahan bahasa, dan jarang menghasilkan roman seperti angkatan sebelumnya.

Tokohnya Chairil Anwar (kumpulan puisi Deru Capur Debu, kumpulan puisi bersama Rivai Apin dan Asrul Sani Tiga Menguak Takdir), Achdiat Kartamiharja (novel Atheis), Idrus (novel Surabaya, Aki), Mochtar Lubis (kumpulan drama Sedih dan Gembira), Pramduya Ananta Toer (novel Keluarga Gerilya), Utuy Tatang Sontani (novel sejarah Tambera)

d. Angkatan ’66

Ciri umumnya adalah tema yang menonjol adalah protes sosial dan politik, menggunakan kalimat-kalimat panjang mendekati bentuk prosa.

Tokohnya adalah W.S. Rendra (kumpulan puisi Blues untuk Bnie, kumpulan puisi Ballada Orang-Orang Tercinta), Taufiq Ismail (kumpulan puisi Tirani, kumpulan puisi Benteng), N.H. Dini (novel Pada Sebuah Kapal), A.A. Navis (novel Kemarau), Toha Mohtar (novel Pulang), Mangunwijaya (novel Burung-burung Manyar), Iwan Simatupang (novel Ziarah), Mochtar Lubis (novel Harimau-Harimau), Mariannge Katoppo (novel Raumannen).

E. Identifikasi Moral, Estetika, Sosial, Budaya Karya Sastra

1. Identifikasi Moral

Sebuah karya umumnya membawa pesan moral. Pesan moral dapat disampaikan oleh pengarang secara langsung maupun tidak langsung. Dalam karya satra, pesan moral dapat diketahui dari perilaku tokoh- tokohnya atau komentar langsung pengarangnya lewat karya itu.

2. Identifikasi Estetika atau Nilai Keindahan

Sebuah karya sastra mempunyai aspek-aspek keindahan yang melekat pada karya sastra itu. Sebuah puisi, misalnya: dapat diamati aspek persamaan bunyi, pilihan kata, dan lain-lain. Dalam cerpen dapat diamati pilihan gaya bahasanya.

3. Identifikasi Sosial Budaya

Suatu karya sastra akan mencerminkan aspek sosial budaya suatu daerah tertentu. Hal ini berkaitan dengan warna daerah. Sebuah novel misalnya, warna daerah memiliki corak tersendiri yang membedakannya dengan yang lain. Beberapa karya sastra yang mengungkapkan aspek sosial budaya:

a. Pembayaran karya Sunansari Ecip mengungkapkan kehidupan di Sulawesi Selatan.

b. Bako Karya Darman Moenir mengungkapkan kehidupan Suku Minangkabau di Sumatera Barat.



PENGERTIAN SASTRA

Sastra (Sansekerta शास्त्र, shastra) merupakan kata serapan dari bahasa Sansekerta śāstra, yang berarti "teks yang mengandung instruksi" atau "pedoman", dari kata dasar śās- yang berarti "instruksi" atau "ajaran". Dalam bahasa Indonesia kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada "kesusastraan" atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu. Tetapi kata "sastra" bisa pula merujuk kepada semua jenis tulisan, apakah ini indah atau tidak.

Selain itu dalam arti kesusastraan, sastra bisa dibagi menjadi sastra tertulis atau sastra lisan (sastra oral). Di sini sastra tidak banyak berhubungan dengan tulisan, tetapi dengan bahasa yang dijadikan wahana untuk mengekspresikan pengalaman atau pemikiran tertentu.

Biasanya kesusastraan dibagi menurut daerah geografis atau bahasa.


Jadi, yang termasuk kedalam kategori Sastra adalah :

*

Novel
*

Cerita / Cerpen (tertulis / lisan)
*

Syair
*

Pantun
*

Sandiwara / Drama
*

Lukisan / Kaligrafi

Sastra Nusantara

*

Sastra Bali
*

Sastra Batak
*

Sastra Bugis
*

Sastra Indonesia (Modern)
*

Sastra Jawa
*

Sastra Madura
*

Sastra Makassar
*

Sastra Melayu
*

Sastra Minangkabau
*

Sastra Sasak
*

Sastra Sunda
*

Sastra Lampung

Sastra Barat

*

Sastra Belanda
*

Sastra Inggris
*

Sastra Italia
*

Sastra Jerman
*

Sastra Latin
*

Sastra Perancis
*

Sastra Rusia
*

Sastra Spanyol
*

Sastra Yunani

Sastra Asia

*

Sastra Arab
*

Sastra Tiongkok
*

Sastra Ibrani
*

Sastra India Modern
*

Sastra Jepang
*

Sastra Parsi
Sastra Sansekerta








menulisSelama ini kita sering mendengar istilah sastra, lalu apa sebenarnya pengertian sastra itu? Sastra (Sanskerta: शास्त्र, shastra) merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta śāstra, yang berarti “teks yang mengandung instruksi” atau “pedoman”, dari kata dasar śās- yang berarti “instruksi” atau “ajaran”. Dalam bahasa Indonesia kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada “kesusastraan” atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu.

Yang agak biasa adalah pemakaian istilah sastra dan sastrawi. Segmentasi sastra lebih mengacu sesuai defenisinya sebagai sekedar teks. Sedang sastrawi lebih mengarah pada sastra yang kental nuansa puitis atau abstraknya. Istilah sastrawan adalah salah satu contohnya, diartikan sebagai orang yang menggeluti sastrawi, bukan sastra.

Selain itu dalam arti kesusastraan, sastra bisa dibagi menjadi sastra tertulis atau sastra lisan (sastra oral). Di sini sastra tidak banyak berhubungan dengan tulisan, tetapi dengan bahasa yang dijadikan wahana untuk mengekspresikan pengalaman atau pemikiran tertentu.

Biasanya kesusastraan dibagi menurut daerah geografis atau bahasa.

Dan inilah beberapa yang termasuk dalam kategori Sastra:
- Novel
- Cerita/cerpen (tertulis/lisan)
- Syair
- Pantun
- Sandiwara/drama
- Lukisan/kaligrafi
Selengkapnya...

Rabu, 02 Februari 2011

SYAIR

Syair merupakan puisi atau karangan dalam sastra melayu lama, dengan bentuk terikat yang mementingkan irama sajak.

Kata ini berasal dari bahasa Arab, yaitu syuur, yang berarti perasaan. Dari kata syuur, kemudian muncul kata syi'ru, yang berarti puisi dalam pengertian umum.


Dalam kesusasteraan Melayu, kata ini merujuk pada pengertian puisi secara umum. Namun, dalam perkembangannya, ia mengalami perubahan dan modifikasi sehingga menjadi khas Melayu, dan tidak lagi mengacu pada tradisi sastra di negeri Arab.

Syair bukanlah kumpulan kata yang asal saja dan tidak memiliki makna. Justru, ia hadir membawa makna isi yang berhubung dengan kias ibarat, sindiran, nasihat, pengajaran, agama dan juga berisikan sejarah atau dongeng.

Adapun ciri-ciri Syair adalah sebagai berikut:

    Merupakan puisi terikat.

    Umumnya terdiri dari empat baris, agak mirip dengan pantun. Perbedaannya adalah, empat baris pantun merupakan dua baris sampiran dan dua baris isi yang berdiri sendiri. Sedangkan bait syair merupakan bagian dari sebuah cerita yang panjang.

    Jumlah kata dalam satu baris tetap, yaitu 4-5 kata satu baris

    Jumlah suku kata dalam satu baris juga tetap, yaitu antara 8-12 suku kata dalam satu baris

    Rima  akhir juga tetap yaitu a/a/a/a. Ada juga yang memiliki rima a/b/a/b, tiga baris dengan rima akhir a/a/b, dan dua baris dengan rima a/b, namun ketiga bentuk syair terakhir tidaklah popular.

Jika Anda bertanya siapa penyair yang berperan besar dalam membentuk syair khas Melayu, maka dia adalah Hamzah Fansuri. Karya yang sudah dihasilkan antara lain: Perahu, Burung Pingai, Dagang, dan Sidang Fakir.

Dari namanya, orang Melayu mengenali syair seiring dengan penetrasi dan perkembangan ajaran Islam, terutama tasawuf di Indonesia. Bentuk berbahasa Arab yang tercatat paling tua di negeri ini adalah catatan di batu nisan Sultan Malik al-Saleh di Aceh, bertarikh 1297 M.

Sedangkan yang berbahasa Melayu yang tertua adalah syair di prasasti Minye Tujoh, Aceh, Indonesia bertarikh 1380 M (781 H). Didalamnya, bahasa Melayu masih bercampur dengan bahasa Sansekerta dan Arab.

Sedangkan dari segi jumlah, syair diperkirakan menempati posisi kedua setelah pantun. Artinya, bentuk sastra ini sangat populer pada masyarakat Melayu. Dari segi cara penceritaan, ia bisa diklasifikasi menjadi dua, yaitu naratif dan yang non naratif. Berdasarkan isi dan tema, bentuk naratif bisa dibagi kembali menjadi 4 jenis yaitu:

    1. Romantic, sebagai contoh: Bidasari
    2. Sejarah, sebagai contoh: Perang Makassar, Perang Banjarhttp://www.anneahira.com/puisi/syair.htm
    3. Keagamaan, sebagai contoh: Nur Muhammad
    4. Kiasan, sebagai contoh: Ikan Terubuk

Sedangkan syair non-naratif terbagi kembali menjadi tiga jenis, yaitu:

    1. Agama
    2. Nasihat
    3. Di luar tema-tema tersebut
Selengkapnya...

GURINDAM

Mengenal GURINDAM
Gurindam adalah bentuk puisi lama yang terdiri atas dua baris tiap baitnya dan bersajak a – a. Baris pertama berupa syarat dan baris kedua berupa jawab.

Gurindam yang terkenal adalah Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji seorang sastrawan Melayu.

Disebut Gurindan Dua Belas karena terdiri atas dua belas pasal. Inilah pasal pertama.

Barang siapa tidak memegang agama

Sekali-kali tidakkan boleh dibilangkan nama

Barang siapa mengenal yang empat

Ia itulah orang yang makrifat

Barang siapa mengenal Allah

Suruh dan tengah-Nya tiada ia menyalah

Barang siapa mengenal dunia

Takutlah ia barang yang terperdaya

Barang siapa mengenal akhirat

Tahulah ia dunia mudarat

Kurang fikir, kurang siasat

Tinta dirimu kalah tersesat

Fikir dahulu sebelum berkata

Supaya terlelah selang sengketa

Kalau mulut tajam dan kasar

Boleh ditimpa bahaya besar

Jika ilmu tiada sempurna

Tiada berapa dia berguna

Berdasarkan contoh gurindam tersebut, sangat jelas ada keterkaitan antara isinya dengan kehidupan sehari-hari. Kesemuanya berupa nasihat. Nasihat yang berguna bagi manusia dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Sebagai manusia ciptaan Tuhan, agama merupakan pegangan hidup di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang tidak memilikinya dan tidak melaksanakannya, maka tak hanya celaka di dunia tetapi juga di akhirat. Oleh karena itu, hidup di dunia harus menjauhkan diri dari hal-hal yang mudarat,harus berhati-hati, baik dalam berkata-kata maupun berfikir karena semua itu merupakan ilmu yang berguna dalam kehidupan.

Berikut Gurindam Dua Belas pasal keenam.

Cahari olehmu akan sahabat,

Yang boleh dijadikan obat.

Cahari olehmu akan guru,

Yang boleh tahukan tiap seteru.

Cahari olehmu akan isteri,

Yang boleh dimenyerahkan diri.

Cahari olehmu akan kawan,

Pilih segala orang yang setiawan.

Cahari olehmu akan abdi,

Yang ada baik sedikit budi.

Bagaimanakah dengan gurindam ?

Kurang fikir, kurang siasat,

Tentu dirimu kelak tersesat.

Fikir dahulu sebelum berkata,

Supaya terelak silang sengketa.

Orang malas jatuh sengsara,

Orang rajin bayak saudara.

Ilmu kepandaian boleh dikejar,

Asal mau rajin belajar.

Menolong sesama wajib dan perlu,

Tetapi tolonglah diri dahulu.



Gurindam adalah puisi lama melayu yang mempunyai ciri tiap bait terdiri dari 2 baris dengan akhir irama yang sama. Baris pertama biasanya berupa soal atau perkara, dan baris sesudahnya adalah penjelasan dan jawaban. Bahasa dan perjuangan adalah hal yang tidak bisa dipisahkan.Kisah perjuangan juga adalah kisah para pejuang dengan bahasa. Dan segala kisah perjuangan di muka bumi ini, kalaulah boleh dikatakan, para pemuda lah sebagai tintanya.

Maka gurindam ini dikhususkan untuk saudaraku para pemuda tercinta di lima benua. Para pemuda ketika yang lain sudah gelap dengan dunia, maka mereka masih menjaga diri agar hati tidak menjadi buta.

Para pemuda yang di tengah segala propaganda putus asa, justru melihat diri mereka lah asa yang tersisa. Para pemuda ketika yang lain sibuk dengan diri sendiri saja, maka kesenangan mereka adalah mendahulukan saudaranya.

Gurindam ini dikhususkan untuk para pemuda ketika ibu-ibu lain hilang peka meninggalkan putra-putrinya, maka merekalah yang berjihad mempersiapkan tentara Rabbnya. Para pemuda ketika yang lain tanpa malu memamerkan diri untuk menjadi yang tercantik di dunia, justru mereka lah wanita tercantik sedunia karena paling menjaga rasa malu dengan hijabnya.

Gurindam ini dikhususkan untuk para pemuda yang hidup bersama sirah Rasulnya, sembari mengusap air mata mengingat Junjungan Tercinta.

Para pemuda yang diancam ketakutan dan kematian oleh para musuhnya, jawaban mereka adalah surga. Para pemuda ketika yang lain sibuk dengan segala teorinya, maka mereka mencukupkan Al Quran sebagai dusturnya.

Gurindam ini dikhususkan untuk para pemuda, yang melihat masa depan dunia adalah Islam sebagai jawaban segala perkara.

Para pemuda yang melihat masa depan Din-nya adalah kejayaan dan kemenangan atas musuh-musuhnya. Dan para pemuda yang tidak pernah berbangga, karena mereka hanyalah hamba Rabbnya.

Gurindam “Syarat Kemenangan”

Bila niat tlah terucap
Tanda siap bertanggung jawab

Bila perkara tlah tetap
Bersiaplah dengan hati yang mantap

Belumlah disebut taat
Bila masih melalaikan shalat

Belumlah disebut menegakkan shalat
Bila masih enggan membayar zakat

Belumlah disebut beruhul jadid
bila kaki masih berat ke masjid

Tanda engkau ikut Rasulmu
Bila ucap bersatu dalam lakumu

Tanda paham kan dunia
Laksana pengembara hidupnya

Tanda hati bisa melihat
Bila ia menangkap akhirat

Tanda orang mengenal isyarat
Tahulah ia sungguh kiamat tlah dekat

Tanda orang siap berjihad
Bila yang diminta tolong hanya Dia Yang Ahad


Carilah olehmu ilmu
Yang boleh merubah lakumu

Carilah olehmu cita
yang tidak bersandar pada manusia dan harta

Carilah olehmu cinta
yang membawamu pada Dia semata

Carilah olehmu bekal
Yang ketika di kubur tak ikut tertinggal


Sesiapa yang melihat hidup itu ujian
Pertanda ia masih punya iman

Sesiapa yang dijauhi ketenangan
Diam di masjid adalah jawaban

Sesiapa yang akrab dengan Al Quran
Tahulah ia sebenar-benar petunjuk jalan


Kebaikan ilmu bukanlah jabat pangkat hormat dan salut
Melainkan bila terhadap-Nya dirimu bertambah takut

Kebaikan harta bukanlah emas segunung Uhud
Melainkan bila dengannya engkau infaq dan zuhud


Tinggalkan kesenangan semu
Maka setan tak menjadi tamu

Tinggalkan segala ragu
Maka bertemu apa yang dituju


Ketika yang lain beda baju bertikai
Tetaplah engkau dengan baju Islam yang dipakai

Ketika banyak bendera saling berseteru
Cukuplah kalimat tauhid sebagai bendera pembaharu

Sekalipun yang tersisa hanya engkau yang satu
Cukuplah ALLAH menjadi penentu

Apabila ALLAH telah memberi restu
Langit bumi berserta isinya kan jadi pembantu

Sungguh kemenangan itu dekat
Bagi mereka yang menjaga syarat

Sungguh segala syarat tlah jelas
Tiada lain Al Quran yang mempertegas

Dan sungguh kemenangan itu adalah pasti
Untuk yang nafas kesabarannya tiada berhenti

Mau tau lebih lengkap gurindam dua belas nya Raja Ali haji ?   Klik disini
Selengkapnya...

Jumat, 21 Januari 2011

MATERI

Nama          :    Ika Dian Pertiwi
Kelas          :    6C KMI ASSALM BANGILAN
No. Absen  :    09
Materi         :    Resensi
Pelajaran     :    SASTRA INDONESIA


KUASA ALLAH DIBALIK KESULITAN

Judul Buku   :        Kun Fayakun
Pengarang     :        Yusuf Mansur
Penerbit        :        zikrul Hakim
Tahun           :        2007
Tebal Buku   :        272 halaman
Ukuran         :        15cm x 23cm
Harga Buku  :        Rp. 35.000



Dunia ini adalah buku, tiada arti bagi orang yang tidak mau memebacanya. Walaupun kisah dunia sangat pendek, tapi ia adalah samudera ilmu dan hikmah yang tiada bertepi. SUBHANALLAH…... Allah menciptakan tidak halnya ciptaan tapi semua kejadian, itulah tidak ada yang kebetulan, tidak ada yang tidak ada maksud. Dan tidak ada yang sia-sia.
Dan kecerdasan orang beriman adalah kecerdasan menangkap bahasa hikmah dibalik semua kisah. Kisah tumbuh-tumbuhan, hewan, manusia, planet dan langit. SUBHANALLAH…. Yang membuat ia semakin dekat kepada allah.
Di balik berbagai kesulitan, penderitaan dan keputus-asaan yang kita alami, selalu ada kuasa Allah SWT. Maka yang harus kita lakukan adalah berupaya agar Allah berkenan hadir dalam kehidupan kita. Itu saja! Karena tidak ada yang tidak mungkin, jika Allah sudah berkehendak, lalu apa alasan kita untuk berputus asa dan bersedih hati?
“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya “ Jadilah” maka terjadilah ia maka maha suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada_Nyalah kamu di kembalikan.” (yasin 82-83).
Buku yang lebih mengarahkan kita untuk selalu ingat bahwa “ada harapan di tengah kesulitan” mengajak kita menembus wilayah langit untuk meminta bantuan Allah, berharap pada kuasa–Nya. “melalui kisah-kisahnya dalam buku tersebut, mampu memberikan pemahaman dengan baik dan langkah-langkah yang mesti diambil agar kesulitan dalam hidup dapat berubah mutiara yang bisa kita dapatkan seiring dengan kesabarankita menerimanya sebagai sebuah ketetapan Allah SWT. Buku tersebut mengajarkan kita untuk selalu memiliki harapan dan selalu optimis demi mengharap rahmat (Kasih Sayang) Allah
Mungkin kisah diatas belum mencakup seluruh apa yang ada pada buku ini, karena memang tidak akan cukup apabila harus dicuplik kisah dami kisah. Oleh karenanya pengen tahu kisah nyata yang telah di kemukakan dalam sebuah buku unik “harapan di tangah kesulitan” Buruan baca bukunya ya….!! Karena buku ini akan memberikan inspirasi dan motivasi bagi pembaca.
Selengkapnya...